Tampilkan postingan dengan label Sajak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sajak. Tampilkan semua postingan
Sabtu, 24 Agustus 2013 0 komentar

Kaulah Aku

Seberapa kuat kah hati ini untuk tegar selayaknya karang yang diterpa badai. Sebarapa mampukah kaki ini melangkah dalam sebuah pelarian yang kian tak berarah. Seberapa indahkah kala bunga mulai menemui masa penuaannya. Seakan semuanya mulai rapuh, letih dan kian melayu. Tak ada lagi hara yang mampu terserap sempurna. Perlahan tanpa dirasa semua menggenang membuat rapuh dan tak berdaya.

Kala senyawa sederhana ada dan menghapiri tanpa henti seakan menjadi candu. Menyerapnya, meleburnya dan menyebarkan semua efeknya dalam hati yang rapuh.Tunas-tunas rasa makin menampakan geliatnya. Kini saat-saat memulai fotosintesa dengan berbagai rasa terbaik. Berkolaborasi denganmu seakan selalu memproduksi energi terbaik setiap prosesnya.

Kaulah nutrisi terbaikku.
Kaulah energi positifku.
Kaulah Aku.
Kamis, 22 Agustus 2013 0 komentar

Peristiwa Subuh


Kala fajar masih malu-malu
Derap langkah kian menderu
Lurus, rapat menghadapMU
Menggetar arash menara seribu

Kala fajar masih malu-malu
Dalam sujudku yang khusyu
Raga terkoyak seribu peluru

Kala fajar masih malu-malu
Ku seru KAU penuh rindu
Ragaku untukMU
Syahidku dijalanMu
Senin, 29 Juli 2013 0 komentar

STRATEGI MEMBANGUN PEMERINTAH YANG JUJUR DAN ADIL

 
Kursi pemerintahan adalah kursi panas bagi siapa saja yang mendudukinya. Kursi yang memegang peranan penting dalam segala aspek maka tidak jarang banyak yang mengincar kursi ini untuk segala kepentingan dan ambisi dari setiap kalangan yang akan berkiprah nantinya.
Bukan hal yang asing lagi jika sebuak kursi untuk jabtan strategis diperlakukan layaknya orang berbisnis. Untuk dapat menduduki kursi tersebut setiap individu maupun kelompok akan mengeluarkan dan yang tidak sedikit seperti halnya data data yang di temukan oleh ICW.
Berdasar perhitungan ICW terhadap laporan dana kampanye delapan partai besar, terdapat selisih jumlah pengeluaran dana kampanye yang cukup mencengangkan. Partai Golkar misalnya, laporan belanja iklan mereka secara resmi kepada KAP hanya Rp 142 miliar. Akan tetapi, dari perhitungan ICW terhadap iklan Golkar di televisi berdasar data AGB Nielsen, setidaknya pengeluaran belanja iklan televisi Golkar mencapai Rp 277 miliar. Itu berarti, terdapat selisih Rp 135 miliar yang sangat mungkin tidak dilaporkan Golkar sebagai pengeluaran.
Laporan pengeluaran dana kampanye partai besar lain, seperti PDI Perjuangan dan PPP, juga termasuk yang mencurigakan. PDI Perjuangan sebagai contoh hanya melaporkan Rp 7 miliar untuk belanja iklan. Akan tetapi, dari data AGB Nielsen, total pengeluaran belanja iklan televisi PDI Perjuangan mencapai Rp 102 miliar. Dengan demikian, selisih laporan resmi dengan estimasi perhitungan ICW mencapai Rp 95 miliar.
Satu partai lagi yang mencolok adalah PPP karena selisihnya Rp 36,4 miliar. Laporan pengeluaran resmi mereka kepada KAP hanya Rp 3,6 miliar, namun total pengeluaran berdasar estimasi ICW mencapai Rp 40 miliar. Partai selanjutnya yang juga terindikasi bermasalah dalam laporan pengeluaran dana kampanye adalah PKS, Partai Hanura, dan PAN meskipun dengan selisih yang lebih kecil.
Wajar saja jika banyak terjadi praktek korupsi dikalangan anggota dewan, untuk mendapatkan kursinya saja sudah susah butuh dana dan waktu yang tidak sedikit. Bualan dan omong kosong serta janji-janji palsu turut serta menyemarakan kegiatan perebutan kursi ini.  Layaknya melelang sebuah lukisan tua yang mempunyai nilai seni yang tinggi. Yang berani menawar dengan harga tinggi dialah yang akan mendapatkannya.
Praktik-praktik korupsi ini menimbulkan dampak sosial dan ekonomi yang sangat luas. Proses pembangunan tidak berjalan dengan semestinya karena uang yang seharusnya untuk kesejahteraan masyarakat malah masuk ke kantong-kantong pribadi. Apalagi di saat negara tengah menghadapi persoalan berat, seperti pengangguran, kemiskinan, dan berbagai bencana alam. Praktik korupsi dipastikan akan semakin menambah beban negara dan rakyat.
Untuk menghilangkan praktek korupsi, tentunya dibutuhkan seorang pemimpin yang layak dan aturan hukum yang sangat jelas, tegas, keras, berat, dan mengikat, tanpa menoleransi usaha penyuapan terhadap hukum yang berlaku. Seyogyanya pula perangkat (aturan) hukum tersebut tidak hanya menjadi wacana saja, tetapi juga diamalkan (dilaksanakan) sebagai realisasi.
Dari hasil polling online yang dilakuakan oleh QB Leadership Center di LeadershipQB.com didapatkan data bahwa karakter seorang pemimpin yang ideal adalah seagai berikut : (a) Jujur dan bersih dari korupsi, serta membangun sistem yang mencegah korupsi. (b) Punya integritas, tegas, dan berani mengambil sikap. (c) Visoner: Punya visi jangka panjang dan mengambil langkah untuk merealisasikannya.
Dalam hal ini ada baiknya jika pemerintah mengambil contoh sistem hukum negara lain dalam menghukum para koruptor yang kelak dapat menghancurkan bangsa ini. Ada baiknya pula jika pemerintah menindaklanjuti praktek korupsi yang merajalela di dalam negara dengan mempelajari penanggulangan kasus-kasus korupsi yang merebak di negara-negara lain yang juga tergolong negara korup, atau negara bebas korupsi. Dengan sendirinya, pemerintah akan lancar dalam merumuskan strategi pembasmian praktek korupsi di Indonesia setelah mendapat masukan dari cara-cara negara lain dalam mengatasi kasus korupsi. Contohnya adalah seperti yang telah dijabarkan oleh Bapak Kwik Kian Gie dalam buku “PEMBERANTASAN KORUPSI: Untuk Meraih Kemandirian, Kemakmuran, Kesejahteraan dan Keadilan” edisi II, yakni dengan menerapkan konsep Carrot and Stick di Indonesia yang telah dilakukan beberapa negara, seperti Singapura atau Republik Rakyat Cina, dan dapat dinilai telah berhasil.
Dalam penjabarannya yang lumayan panjang-lebar namun jelas tersebut, Bapak Kwik Kian Gie menawarkan solusi pemberantasan korupsi di Indonesia dengan menerapkan konsep Carrot and Stick, yang mana arti Carrot dan Stick tersebut adalah sebagai berikut.
Konsep Carrot adalah memberikan pendapatan bersih kepada pegawai negeri yang mencukupi menurut standar sesuai pendidikan, pengetahuan, tanggung jawab, kepemimpinan, pangkat, dan martabatnya (jika perlu dengan tingkat yang tinggi), sehingga orang yang mencari ‘keuntungan lain’ dengan korupsi cenderung enggan, karena telah terpenuhi dengan pendapatan tingginya tersebut.
Kemudian konsep Stick (secara harfiah berarti pentung atau tongkat) diterapkan jika Carrot telah terpenuhi semua, namun yang mendapatkan masih berani melakukan korupsi. Hukuman ini bersifat amat sangat berat, karena tingkat korupsi sudah sangat tinggi dan merajalela dimana-mana.
Salah satu hukuman yang setimpal bagi para koruptor yang telah menyengsarakan rakyat banyak adalah hukuman yang bersifat amat keras, sangat berat, bahkan menurut aturan agama, seperti: hukuman penjara seumur hidup atau hukuman mati. Namun, sebagai bangsa yang berbudi luhur, ada baiknya jika para koruptor yang tingkat korupsinya masih bisa dikatakan sangat rendah diberikan sekali kesempatan untuk memohon pengampunan atas tindakannya, tetapi dengan catatan: segala harta, benda, atau uang yang telah dikorup dikembalikan kepada yang berwewenang seluruhnya alias seratus persen.
Kemudian, jika setelah permohonan ampun diterima dengan pengembalian harta, benda, atau uang yang telah dikorup kepada pihak yang sebenarnya, koruptor tersebut masih berani melakukan korupsi, maka tidak ada kesempatan kedua dan koruptor tersebut harus langsung dijatuhi sanksi atau hukuman seberat-beratnya setimpal dengan praktek korupsi yang telah dilakukannya. Bahkan, agar lebih tegas dan keras, sebaiknya kemungkinan pelaku korupsi tersebut melakukan ‘korupsi ketiga’ ditiadakan dan tentunya hal itu direalisasikan dengan hukuman mati tanpa toleransi.
Dengan hukuman seperti itu, kita harapkan para koruptor menjadi enggan untuk berbuat korup lagi dikarenakan melihat ‘teman-temannya’ mendapat ‘hadiah’ dan praktek korupsi dapat segera berkurang secara berangsur-angsur.
Minggu, 21 Juli 2013 0 komentar

Hibur Malam

bersenandung kala kelam.
memanggil hati yang diam.

akankah datang mentari.
untuk mengurai sepi.
merajut mimpi tanpa tepi.

sajak sendu yang ambigu.
tak dapat merunut waktu.
musabab akal dan hati tak padu.
bosan mengkelabu.

sayup tawa.
sayup canda.
mandayu pada irama.
membisik hati dengan manja.

bersenandung kala kelam.
memanggil hati yang diam.

masihkah ada.
mungkinkah lupa.
dia, aku, siapa.
Kamis, 16 Mei 2013 0 komentar

Kesederhanaan Cibogo, Cisalak

Siang itu, pada hari selasa 14 mei 2013, setelah singgah beberapa menit di Kasomalang kabupaten Subang perjalanan pencarian calon peserta Learning Camp Beasiswa Pemimpin Bangsa angkatan 4 saya lanjutkan menuju kp. Cibago rt 14 rw 04 kel. Wayang kec. Cisalak. Perjalanan dari Kasomalang menuju Cisalak tidak lebih dari 2 jam, sebenarnya jaraknya dekat, hanya saja karena banyak menanyakan alamat maka beberapa kali harus berhenti sehingga lebih banyak waktu yang dibutuhkan hingga sampai ketujuan.

Sepanajang perjalanan suasana tampak biasa-biasa saja, seperti halnya daerah lain yang sudah saya kunjungi. Setelah melewati kecamatan Cisalak barulah ketegangan itu dimulai. Diseberang SD yang ada di Cisalak saya menyempatkan diri untuk menanyakan lagi alamat yang akan saya tuju. Dari penuturan ibu-ibu yang saya temui perjalanan masih lumayan jauh sekitar 7 km lagi. 'Jalannya lumayan jelek dan dibibir jurang' kata ibu-ibu dengan sedikit khawatir. 

Hari memeng mulai gelap, cuaca sedang tidak mendukung, mendung telah menyapa lebih cepat. Akhirnya dengan sedikit tenaga yang masih tersisa walaupun badan mulai letih apalagi tangan sebelah kanan yang mulai terasa sakit, saya terus melanjutkan perjanana. Benar saja apa yang disampaikan ibu-ibu tadi. jalannya yang harus ditempuh benar-benar ujung jurang, berbatu, licin karena banyak air yang bercampur dnegan tanah merah, tak ada penerangan, sesekali tergelincir karena ban motor belakang kurang stabil. Tak ada suara yang lebih keras selain suara motor, jalannpun sangat lengang dan itu hanya ada motor saya saja yang lewat. Sesekali melihat tebing tampak sedikit longsoran-longsoran kecil. Perasaan was-waspun mulai menggandrungi. Tak ada orang lagi dijalan, tak bisa lagi bertanya, malam mulai menyeruak. Tiba di sebuah pertigaan kegamangan mulai bertambah, belok sebelah kirikah atau lurus terus. Jika belok itu ada desa sementara jika lurus belum tampak ada desa. Hampir 5 menit diam di atas motor dan akhirnya saya memutuskan untuk lurus. jalan berbatu nan licin terus menerus jadi teman perjalanan. Sakit tangan kanan ini mulai manjadi-jadi. Tak tahan rasanya ingin cepat sampai. masih ada beberapa tanjakan dan turunan yang harus dilewati.

Letih ini sudah sampai puncaknya. Kesabaran benar-benar diuji. Keihlasan benar-benar ditempa. Akhirnya adzan magrib pun berkumandang, dan saya masih dijalan. Beberapa saat setelah adzan magrib jalan sudah sampai pada titik buntu dan disitulah desa terakhir yang ada. Desa yang berdampingan langsung dengan hutan. Itulah kampung Cibogo.
Dengan basuhan air wudhu, letih ini mulai luntur terbawa air yang suci dan jernih ini. teriakandan kegaduhan anak-anak yang sedang mengaji seakan menjadi hiburan dan pembangkit semangat dalam diri. Setelah sholat magrib barulah saya menuju rumah calon peserta LC. Tak begitu sulit untuk menemukan rumahnya. Dia adalah satu-satunya anak yang melanjutkan pendidikan sampai SMA sehingga namanya tersohor sampai ujung kampung. 

Dirumah peserta saya mengobrol banyak dengan kaka-kakanya yang masih dirumah dan belum menikah. Orang tuanya sedang di sawah, menginap disana untuk menjaga sawah yang satu minggu lagi panen. 'kalau tidak ditungguin nanti kehabisan di makan sama babai hutan" katanya. 

Rumah ini tampak sederhana, kampung ini juga sederhana. Kabut tebal jadi selimut tiap malam. Bukit-bukit yang mengelilinginya seakan menjadi barigade untuk menjaga kampung. Tapi begitun seram yang saya pandang. 'Kalaulah terjadi longsor habislah ini kampung' pikirku sejenak. Mau tidak mau saya harus menginap disini semalam dan melanjutkan perjalanan esok. Jalan yang licin, berbatu, berkelok dan gelap apalagi bibir tebing sangat beresiko jika mamaksakan pulang.

Perjalanan ke kp. Cibogo ini memeberiku semangat baru. Walaupun jauh dari peradaban, masih ada lentera-lentera kecil yang mulai menyala. Dengan semangat para pemuda yang giat untuk menimba ilmu walaupun baru satu, saya yakin Kampung Cibogo ini akan bersinar dengan kewibawaannya..

Suatu saat nanti pasti saya akan melihat cahaya itu.
Terimakasih Cibogo.
Jumat, 10 Mei 2013 0 komentar

Baleendah Berlumpur

Setelah banjir besar pada pekan yang lalu melanda Baleendah, sekarang menyisakan genangan lumpur pekat hitam setinggi 40 cm. Lumpur yang terbawa dari sungai saat banjir ini memenuhi seluruh sudut Baleendah. Baleendah terlihat kumuh dan gersang. Di dataran-dataran yang sedikit tinggi tampak beberapa tenda yang dibuat seadanya. Beratapkan sepanduk dan sisa-sisa terpal ala kadarnya kemudian disangga dengan bambu-bambu yang mulai melapuk. Tenda sederhana yang  cukup untuk bernaung dikala malam menyapa.

Banyak warga yang terkena dampak banjir diungsikan ke rumah susun yang didirikan oleh pemerintah. Beberapa warga yang masih bertahan, berjibaku membersihkan rumah dan jalan agar bisa dilewati lagi. Tampak anak kecil yang asik bermain lupur dengan karung yang digenggamnya. Sesekali ia teriak dan tertawa lepas. Seakan lumpur ini menjadi mainan baru dalam hidupnya.

Semangat masyarakat Baleendah yang masih berapi-api untuk menyingkirkan lumpur menyulut simpati para relawan untuk membantu menyingkirkan si lumpur hitam. Relawan yang terdiri dari para pelajar SMP, SMK serta pramuka dan dimotori oleh Dompet Dhuafa Rescue. Relawan dan warga Baleendah larut dalam kemeriahan menyingkirkan si lumpur hitam. lumpur-lumpur ini dimasukan kedalam karung-karung kecil dan ditata rapih di pinggir jalan. Lentingan sorak-sorak melejitkan sisa tenaga yang mulai terkuras habis. Sedikit demi sedikit lumpur yang menggenangi jalan mulai tersibak. Leleh dan letih terbayar ketika satu gang mulai bersih dari lumpur dan kendaraan dapat masuk.

Keceriaan tak tertampik diwajah para relawan dan warga. Noda-noda lumpur ini memberi kesan tersendiri bagi mereka. Keakraban semakin erat mengikat dihati-hati para relawan. Bahkan ada yang berbagi sendal untuk berjalan kala misi terselasaikan. Semangat relawan menjadi emulsi bagi warga Baleendah untuk terus berjibaku menyingkirkan si lumpur hitam dan menjalani kehidupan seperti sedia kala.

Semoga setetes keringat ini menjadi amal pemberat kita, menyatukan hati-hati kita dan kelak kita dipertemukan dalam JannahNYA.
Aamiin....
Sabtu, 04 Mei 2013 0 komentar

Inilah Keputusan

Pada akhirnya kita akan tahu sampai batas mana kita akan bertahan. Sejauh kaki melangkah dan seterjal jalan yang ditapaki akan memberi tahu kita akan arti yang sebenarnya. Tidak harus menutup mata dan menutup telinga, semuanya bisa dilihat dan didengar bahkan dari hati sekalipun. 

Semua yang telah diputuskan tidak ubahnya dengan membuat jalan baru yang makin sulit di terka dan ditapaki. Mungkin pada akhirnya kita akan berlari dengan kaki kita masing-masing. Menelusuri jalan yang dipilih. Tanpa perlu menyesal dan menoleh kebelakang atas apa yang terjadi, tetapi terus bergerak kedepan walau dengan jalan yang terseok-seok.

Hanya saja yang dirasa hanya terlalu tergesa-gesa. Mungkin itu semua hanya asumsi belaka atau memeng sudah dirancang agar seperti ini. Sejauh mana kau mampu menutupi ini semua. Mataku hanya melihat caramu. Telingaku hanya mendengar rayumu. Itu semua terjadi dalam kesemuan. Tetapi mata hati ini melihat bahwa janji itu ada. 

Kini semua tlah berakhir. Kita punya cara masing-masing. Walau masih kuragu untuk itu. Tak terbesit jika kau berkata tidak dalam bibir tapi hatimu siapa yang tau. Hanya lakumu yang berbisik padaku. Bercerita betapa lemahnya aku. Kita tak jauh beda tapi mungkin beda jauh, dan kita banyak kesukaan yang sama tapi kita tak sepaham dengan yang tidak kita suka. Apapun itu, kita akan membuka lembaran baru dan Episode baru.
Kamis, 18 April 2013 0 komentar

Kemana Dirimu 12

Tuhan tlah mengirimmu sejenak untuk berbagi. Bercerita tentang kasih dan memberi. Merangkai bait-bait nada dalam irama jiwa. Kau ajarkan aku untuk melukis dunia. Mengenalkan aku tentang warna. Tampak nyata kala bias cahaya menyapa. Semuanya saraya menari dalam gegap gempita suka cita. 
Dahulu ku tau kau tak seperti itu. Hati memang tlah memilih dan tertambat. Bukan untuk dilumat dan dihanyutkan begitu saja dalam derasnya aliran sungai. Bukan juga dalam senantiasa tegar bak karang dilautan. Kini kau tlah berubah. Atau aku yang tak mengerti dirimu seutuhnya. 
Semua ini juga punya masa. Di dalam batas ruang dan waktu kau tlah menjelma menjadi sosok yang menakjubkan. Mungkin aku tlah silau dengan sinarmu. Mungkin aku juga tlah hanyut dalam lautan prasangkaku. Pesonamu mungkin mulai memudar. Cahayamu Mungkin mulai redup. Tak cukup bagiku untuk terus melangkah dalam jalan yang remang-remang dan gelap. Butuh energi baru agar kilaunya benerang terang. Butuh generang yang menggunjang jiwa-jiwa yang mulai lemas. 
Tak harus menjadi Khalil gibran yang terselam dalam lamunan berbuah kemajnunan. Aku masih punya sayap untuk terbang. Tak perlu meranggkak dan merintih dalam perih berkapanjangan. Bukan juga untuk menghukumi diri. Kekuatan sebuah keyakinan yang harus diperjuangkan.
Selasa, 16 April 2013 0 komentar

Kelana Perahu Layar

Tiga tahun yang lalu aku larung kapal layar mengarungi samudra kehidupan. Tanpa sebuah bahan bakar dan hanya bermodalkan layar putih yang berharap dapat berkembang. Tanpa tombol dan kemudi otomatis. Kompas penunjuk arah yang mulai menua. Keakuratannya tak seperti dulu kala. Beberapa perbekalan yang cukup untuk bersandar di dermaga yang bernama CINTA.

Kapal layar ini sudah ditengah samudra. Langit tak begitu cerah. Awan hitam mengepul sempurna. Kilat petir bagai cambuk yang datang silih berganti. Suara gemuruhpun saling bersahutan menyatu dengan alunan ombak yang kian kasar. Tekanan udara yang tak menentu membuat perahu layar ini terombang ambing. Penunjuk arah, kompas yang kubawa telah mati dan bintang pun kini mulai tertutupi. Sekarang kudapati gelombang besar yang tiada terkira. Mengoyak perahu yang sederhana. Membelah layar dan mematahkan tiang pancangnya. Gelombang kian tinggi. Menghantam, dan mengempas tubuh perahu layar ini. Semuanya luluh lantah. Dindingnya pun mulai retak. Air laut yang pekat beranjak memenuhi yang rang sempit dan gelap.

Tak kutahu sampai kapan akan berahir badai ini. Langit kan kunjung terang lagi. Ombak kan jinak seperti merpati. Bintang bersemarak menghiasi. Kerinduan pada dermaga. Kerinduan pada sang surya. Kerinduan yang kian mendera. 

Kalau ini sudah mereda, kucoba rajut kembali layar yang telah tercerai berai. Mengokohkan kembali tiang yang patah. Menguatkan kembali diding perahu yang remuk. Akan kusebarangi sampai keplosok negeri. Aku ingin Kau temani.


12.
Sabtu, 06 April 2013 0 komentar

Antara Ayah, Anak dan Burung Gagak



Pada suatu petang seorang tua bersama anak mudanya yang baru menamatkan pendidikan tinggi duduk berbincang-bincang di halaman sambil memperhatikan suasana di sekitar mereka.
Tiba-tiba seekor burung gagak hinggap di ranting pokok berhampiran. Si ayah lalu menuding jari ke arah gagak sambil bertanya,
“Nak, apakah benda itu?”
“Burung gagak”, jawab si anak.
Si ayah mengangguk-angguk, namun sejurus kemudian sekali lagi mengulangi pertanyaan yang sama. Si anak menyangka ayahnya kurang mendengar jawabannya tadi, lalu menjawab dengan sedikit kuat,
“Itu burung gagak, Ayah!”
Tetapi kemudian si ayah bertanya lagi pertanyaan yang sama.
Si anak merasa agak keliru dan sedikit bingung dengan pertanyaan yang sama diulang-ulang, lalu menjawab dengan lebih kuat,
“BURUNG GAGAK!!” Si ayah terdiam seketika.
Namun tidak lama kemudian sekali lagi sang ayah mengajukan pertanyaan yang serupa hingga membuat si anak hilang kesabaran dan menjawab dengan nada yang kesal kepada si ayah,
“Itu gagak, Ayah.” Tetapi agak mengejutkan si anak, karena si ayah sekali lagi membuka mulut hanya untuk bertanya hal yang sama. Dan kali ini si anak benar-benar hilang sabar dan menjadi marah.
“Ayah!!! Saya tak tahu Ayah paham atau tidak. Tapi sudah 5 kali Ayah bertanya soal hal tersebut dan saya sudah juga memberikan jawabannya. Apa lagi yang Ayah mau saya katakan????
Itu burung gagak, burung gagak, Ayah…..”, kata si anak dengan nada yang begitu marah.
Si ayah lalu bangun menuju ke dalam rumah meninggalkan si anak yang kebingungan.
Sesaat kemudian si ayah keluar lagi dengan sesuatu di tangannya. Dia mengulurkan benda itu kepada anaknya yang masih geram dan bertanya-tanya. Diperlihatkannya sebuah diary lama.
“Coba kau baca apa yang pernah Ayah tulis di dalam diary ini,” pinta si Ayah.
Si anak setuju dan membaca paragraf yang berikut.
“Hari ini aku di halaman melayani anakku yang genap berumur lima tahun. Tiba-tiba seekor gagak hinggap di pohon berhampiran. Anakku terus menunjuk ke arah gagak dan bertanya,
“Ayah, apa itu?”
Dan aku menjawab,
“Burung gagak.”
Walau bagaimana pun, anakku terus bertanya soal yang serupa dan setiap kali aku menjawab dengan jawaban yang sama. Sehingga 25 kali anakku bertanya demikian, dan demi rasa cinta dan sayangku, aku terus menjawab untuk memenuhi perasaan ingin tahunya.
“Aku berharap hal ini menjadi suatu pendidikan yang berharga untuk anakku kelak.”
Setelah selesai membaca paragraf tersebut si anak mengangkat muka memandang wajah si Ayah yang kelihatan sayu. Si Ayah dengan perlahan bersuara,
“Hari ini Ayah baru bertanya kepadamu soal yang sama sebanyak 5 kali, dan kau telah hilang kesabaran serta marah.”
Lalu si anak seketika itu juga menangis dan bersimpuh di kedua kaki ayahnya memohon ampun atas apa yg telah ia perbuat.

0 komentar

Kisah Indah Ibnu Hajar dengan Seorang Yahudi



Ibnu Hajar rahimahullah dulu adalah seorang hakim besar Mesir di masanya. Beliau jika pergi ke tempat kerjanya berangkat dengan naik kereta yang ditarik oleh kuda-kuda atau keledai-keledai dalam sebuah arak-arakan. Pada suatu hari beliau dengan keretanya melewati seorang yahudi Mesir. Si yahudi itu adalah seorang penjual minyak. Sebagaimana kebiasaan tukang minyak, si yahudi itu pakaiannya kotor. Melihat arak-arakan itu, si yahudi itu menghadang dan menghentikannya.
Si yahudi itu berkata kepada Ibnu Hajar:
“Sesungguhnya Nabi kalian berkata: ” Dunia itu penjaranya orang yang beriman dan surganya orang kafir. ” (HR. Muslim)
Namun kenapa engkau sebagai seorang beriman menjadi seorang hakim besar di Mesir, dalam arak-arakan yang mewah, dan dalam kenikmatan seperti ini. Sedang aku –yang kafir- dalam penderitaan dan kesengsaran seperti ini.”
Maka Ibnu Hajar menjawab: “Aku dengan keadaanku yang penuh dengan kemewahan dan kenimatan dunia ini bila dibandingkan dengan kenikmatan surga adalah seperti sebuah penjara. Sedang penderitaan yang kau alami di dunia ini dibandingkan dengan yang adzab neraka itu seperti sebuah surga.”
Maka si yahudi itupun kemudian langsung mengucapkan syahadat: Asyhadu anla ilaha illallah. Wa asyhadu anna Muhammad rasulullah,” tanpa berpikir panjang langsung masuk Islam.

Bahan Renungan:
Imam An-Nawawi menjelaskan hadits ini: “Dunia itu penjaranya orang yang beriman dan surganya orang kafir.” “Maknanya bahwa setiap mukmin itu dipenjara dan dilarang di dunia ini dari kesenangan-kesenangan dan syahwat-syahwat yang diharamkan dan dibenci. Dia dibebani untuk melakukan ketaatan-ketaatan yang terasa berat. Jika dia meninggal dia akan beristirahat dari hal ini. Dan dia akan berbalik kepada apa yang dijanjikan Allah berupa kenikmatan abadi dan kelapangan yang bersih dari cacat.
Sedangkan orang kafir, dia hanya akan mendapatkan dari kesenangan dunia yang dia peroleh, yang jumlahnya sedikit dan bercampur dengan keusahan dan penderitaan. Dan bila dia telah mati, dia akan pergi menuju siksaan yang abadi dan penderitaan yang selama-lamanya.”(Syarah Shohih Muslim No. 5256)
Maka sepantasnya seorang mukmin bersabar atas hukum Allah dan ridha dengan yang ditetapkan dan ditaqdirkan oleh Allah. Semoga kita diberi taufik, kemudahan, dan al-afiat untuk menjalani kehidupan dunia ini. Amiin
 
;