Tampilkan postingan dengan label Agricultural. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Agricultural. Tampilkan semua postingan
Minggu, 01 September 2013 0 komentar

Konsep Aras Ekonomi

Konsep Aras Ekonomi pertama kali dikenalkan oleh Stern dan kawan-kawan dari Universitas California pada tahun 1959.  Konsep ini terdiri atas konsep Kerusakan Ekonomi (EconomicDamage), Aras Luka Ekonomi (Economic Injury Level), Ambang Ekonomi (Economic Threshold) dan Aras Keseimbangan Umum .
 Gambar 3.1 menunjukkan letak 3 Aras Ekonomi pada keadaan populasi hama yang normal yaitu semua Aras Ekonomi berada di atas Aras Keseimbangan Umum.

Gambar 3.1.   Gejolak Populasi Hama Dan Letak Aras Luka Ekonomi, Ambang Ekonomi Dan Aras Keseimbangan Umum Pada Keadaan Normal (Sumber : Untung, 2003)

Konsep Aras Ekonomi muncul dan berkembang karena pada waktu itu masyarakat (petani) cenderung untuk menggunakan insektisida secara berlebihan tanpa menggunakan dasar yang rasional.  Insektisida digunakan secara terjadwal menurut umur tanaman secara ekonomi dengan alasan preventif tetapi tidak efisien dan mengandung risiko besar bagi kualitas lingkungan, oleh karena itu perlu ditetapkan landasan ekonomi dan ekologi yang dapat digunakan untuk  memutuskan kapan dan di mana pestisida harus digunakan (Untung, 2003 : 65).
Konsep Aras Ekonomi didasarkan pada pengamatan OPT dengan melihat jenis OPT, stadia OPT,  tingkat kepadatannya, tingkat serangannya dan fase pertumbuhan tanaman.  Berdasarkan pengamatan ini dapat dilihat besarnya tingkat kerusakan yang akan terjadi sehingga dapat diputuskan tindakan pengendalian  yang akan dilakukan. Penggunaan pestisida kimia organik sintetik hanya dapat dibenarkan apabila populasi OPT sudah di atas Aras Ambang Ekonomi.  
Kerusakan Ekonomi
Untuk memahami konsep Aras Ekonomi maka perlu diketahui tentang Luka (injury) dan Kerusakan (damage).  Menurut Untung (2003 : 67) dan Sunoto (2003 : 3) Luka adalah setiap bentuk penyimpangan fisiologis tanaman sebagai akibat aktivitas atau serangan OPT, jadi terpusat pada OPT dan aktivitasnya.  Kerusakan adalah kehilangan yang dirasakan oleh tanaman akibat serangan OPT antara lain dalam bentuk penurunan kuantitas dan kualitas produksi, jadi terpusat pada tanaman dan tanggapannya terhadap pelukaan oleh OPT.  Luka tanaman dapat mengakibatkan kerusakan.   `
Stern et.al. (1959) cit. Untung (2003 : 67) menyatakan Kerusakan Ekonomi adalah tingkatan kerusakan tanaman akibat serangan hama yang membenarkan adanya pengeluaran biaya untuk tindakan pengendalian secara buatan dengan pestisida.  Tindakan pengendalian dapat dibenarkan apabila jumlah biaya pengendalian lebih rendah dari pada besarnya nilai kehilangan potensial yang diderita tanaman  karena adanya populasi hama.
Aras Luka Ekonomi
Aras Luka Ekonomi (ALE)  adalah keadaan dimana kepadatan populasi terendah yang dapat mengakibatkan kerusakan ekonomi.  Menurut Mumford dan Norton (1982) cit. Untung (2003 : 67) bahwa dasar konsep Aras Ekonomi adalah konsep Titik Impas (BreakEeven Concept) dalam pengendalian hama.  Pada titik impas ini terjadi kerusakan ekonomi yaitu pada ALE, sehingga apabila dilakukan pengendalian hama di atas titik impas masih akan menguntungkan.  Sebaliknya apabila dilakukan di bawah titik impas  maka hanya akan merugikan petani karena besarnya nilai kehilangan hasil yang diselamatkan lebih rendah daripada biaya pengendalian yang dikeluarkan. 
Ambang Ekonomi
Ambang Ekonomi (AE) merupakan istilah yang sudah dikenal dan digunakan untuk pengambilan keputusan pengendalian hama sesuai dengan konsep Pengelolaan Hama Terpadu (PHT).  Menurut Stern dkk. (1959)  AE merupakan kepadatan populasi hama yang memerlukan tindakan pengendalian untuk mencegah terjadinya peningkatan populasi berikutnya yang dapat mencapai Aras Luka Ekonomi (ALE).  Konsep AE lebih menekankan aspek  pengambilan keputusan kapan dan di mana petani harus menggunakan pestisida agar tindakan tersebut efektif menurunkan populasi hama dan mencegah kerugian lebih lanjut serta meningkatkan keuntungan usaha tani.  ALE lebih menekankan aspek perhitungan ekonomi, biaya, manfaat, untung rugi dari tindakan pengendalian hama dengan menggunakan pestisida. Jadi jelas bahwa AE merupakan Aras Keputusan Tindakan Pengendalian (Untung, 2003 : 71; Wigenasantana, 2001: 7). 
Ambang Ekonomi secara konsepsi letaknya harus di bawah garis Aras Luka Ekonomi (ALE), hal ini karena apabila populasi hama telah mencapai garis AE kemungkinan populasi akan meningkat terus sehingga dapat melewati garis AE.  Stern dkk. (1959) cit. Untung (2003 : 72) menyatakan agar populasi hama tidak mencapai ALE  harus diadakan tindakan pengendalian pada aras populasi  di garis AE.  Penentuan AE dan ALE adalah AE harus di bawah ALE, hal ini dimaksudkan agar petani masih mempunyai waktu untuk menanggapi perubahan yang terjadi di lapangan.  Misalnya apabila dari perhitungan diketahui ALE dari larva penggerek batang padi adalah 5 larva/rumpun maka dapat kita tentukan nilai AE adalah 4 larva/rumpun tanaman.     
Penentuan Ambang Ekonomi
            Penentuan Ambang Ekonomi suatu OPT didasarkan pada : jenis OPT, yaitu apabila OPT tersebut merupakan OPT utama maka nilai AE  cukup tinggi, misalnya hama Wereng (Nephotettix virescens) nilai Ambang Ekonominya adalah 5 nimfa pertunas pada saat tidak ada serangan penyakit Tungro, jika ada serangan Tungro maka  1 nimfa pertunas;  jenis tanaman yaitu menyangkut Nilai Ekonomi tanaman, apakah dipanen daunnya, bunganya, buahnya, akarnya atau keseluruhan tanaman.
Ambang Ekonomi untuk setiap OPT berbeda karena setiap OPT secara biologi dan ekologi tidak sama.  Ada Opt yang menyerang tanaman pada fase pembibitan, fase pertumbuhan vegetatif dan fase generatif pada saat pengisian bulir dan polong.  Ada pula OPT yang menyerang sepanjang umur hidup tanaman.
Jenis tanaman yang dibudidayakan oleh petani dapat mempengaruhi nilai Ambang Ekonomi dari OPT, artinya tanaman yang memiliki nilai ekonomi tinggi akan memiliki nilai ambang ekonomi yang tinggi pula.
Monitoring Organisme Pengganggu Tanaman (OPT)
Monitoring OPT adalah suatu kegiatan mengamati dan mengawasi perkembangan setiap OPT dan komponen-komponen penyusun agroekosistem.  Pengamatan dilakukan untuk menentukan nilai Ambang Ekonomi dari OPT, sehingga sedikit saja terjadi kenaikan populasi suatu OPT akan cepat diantisipasi dengan melakukan pengendalian yang dianggap cocok untuk kondisi demikian.
Monitoring perlu dilakukan terutama pada daerah-daerah yang berpotensi meledaknya suatu populasi hama, terutama untuk hama-hama utama dan hama potensial yang mudah meledak poplasinya apabila kondisi mendukung.  Monitoring dapat dilakukan secara terjadwal yang dilakukan sejak tanam sampai menjelang panen.    Monitoring ditujukan untuk mengawasi dinamika populasi hama sehingga apabila terjadi kenaikan populasi hama mendekati Aras Ambang Ekonomi petani sudah bisa menentukan keputusan pengendalian yang akan dilakukan.
Senin, 29 Juli 2013 1 komentar

Menelisik Sayur Mayur Indonesia

Sayur mayur adalah salah satu makanan yang banyak di gemari, terutama bagi mereka yang vegetarian. Sayur mayur merupakan salah satu makanan yang mengandung banyak nutrisi yang dibutuhkan oleh tubuh. Tapi pernahkah kalian memperhatikan bagaimana cara para pertani membudidayakan tanaman yang kalian konsumsi ??..
Ada hal yang patut diwaspadai oelh konsumen mengenai sayur mayur yang mereka konsumsi. saur mayur yang dijual bebas di pasar mupun di supermarket ternyata masih jauh dari aman. kandungan pestisida yang tinggi yang masih terdapat pada sayur mayur menjadi ancaman serius. 
Loh Ko BISA ???
Mari kita mulai caritahu sebabnya satu persatu.
Sayur mayur biasanya banyak di budidayakan di dataran medium sampai dataran tinggi. Keadaan lingkungan yang baik akan mendukung pertumbuhan sayur mayur tersebut. Tidak ubanhnya dengan manusia yang suka sayur mayur organisme lain juga suka dengan sayur. Mulai dari hama seperti ulat-ulatan, jamur, bakteri sekalipun banyak yang melirik sayur sebagai makanan utamanya atau makan sampingan. karena banyaknya minat untuk menyantap sayuran ini, maka manusia dengan berbagai caranya mengusahakan agar sayuran tetap menjadi bagus untuk dimakan. Dari sinilah muncul berbagai macam cara pengendalian hama, jamur, bakteri, nematoda, Virus dan lain sebagainya. Cara pengendaliannya mulai dari pencegahan sampai menobati tanaman yang sudah sakit. Cara pengendalian ini ditingkat petani sebagai produsen utama sayur mayur yang masih kurang aman. Para petani ini masih sangat minim pengetahuan tentang penganan organisme pengganggu tumbuhan yang baik dan aman. 
Para petani di Indonesia masih dimanjakan dengan penggunaan pestisida yang dijual bebas di kalangan petani. Walaupun sudah ada aturan tentang peredaran pestisida di Indonesia tapi fakta dilapangan masih banyak Pestisida yang dinilai pestisida yang tingkat bahayanya tergolong sangat tinggi karena bersifat kersinogenik (penyebab kanker). 
(1) Pemahaman yang masih kurang tepat mengenai pestisida yang dianggap obat padahal sejatinya bahwa pestisida adalah RACUN. Racun dengan tingkat BAHAYA yang berbeda-beda. Karena menggangap pestisida adalah obat maka para petani tak segan-segan membeli bahkan dengan harga yang lumayan mahal. 
(2) penggunaan pestisida yang tidak memenuhi aturan baik yang dikeluarkan oleh produsen pestisida tersebut. Akibatnya banyak petani yang menggunakan pestisda dengan dosis yang lebih tinggi bahkan sangat tinggi. Dari penggunaan yang berlebihan inilah residunya dalam sayuran sangat tinggi. 
(3) Para petani masih kurang mengerti dengan jenis-jenis pestisida yang beredar. Selain jenis pestisda petani juga masih awam tentang bahan aktif yang terkadung dalam pestisida. Akibat ketidaktahuan ini petani menggunakan pestisida untuk mengendalikan organisme menjadi tidak berpriorganismean..hahaha bahasanya rada aneh.. tapi intinya tidak memperhatikan organisme di lingkungan.
(4) para petani masih kurang faham tentang pencampuran pestisida saat aplikasi. Biasanya petani dalam satu kali penyemprotan menggunakan lebih dari dua jenis pestisida secara bersamaan dengan cara dicampur. Petani terkadang tidak faham jika yang mereka kendalikan itu apa menggunakan pestisida untuk mengendalikan apa. pencampuran antar pestisida mempunyai efek yang berbeda-beda. Jika pestisida satu dicampur dengan pestisida lain maka hasilnya bisa jadi bagus dan tidak berefek. bukan berarti rumus matematika 1 + 1 = 2 ini berlaku di pestisida. bisa jadi 1 + 1 = 1 atau bahkan 1 + 1 = 0 tergantung dari bahan aktif yang terdapat dalam pestisida tersebut. 
(5) waktu aplikasi yang kurang tepat. produk sayuran seharusnya dilakukan aplikasi pestisida maksimal 1 minggu bahkan ada yang 2 minggu sebelum dipanen. tetapi dilapangan kenyakan produk sayuran yang besok mau di panen sekarang masih di aplikasikan pestisida. hal ini menyebabkan racun yang terkandung dalam sayuran makin tinggi apalagi pestisida yang bersifat sistemik. huuuuu megerikan.

Kibat dari ketidak tahuan petani dari semua ini adalah para petani menggunakan pestisida secara berlebih apalagi pada musim penghujan, yang menyebabkan terjadinya pengendapan zat-zat kimia yang bersifat racun bahkan kebanyakan pestisida memicu kanker pada dayur mayur, patogen yang menjadi reisiten atau kebal terhadap pestisida sehingga memicu petani menggunakan dosis yang lebih banyak, peningkatan pengeluaran untuk mengendalikan patogen, dan yang jelas produk yang dihasilkan bukannya sehat tetapi malah menjadi PRODUK RACUN DENGAN WUJUD SAYUR MAYUR. Oleh karenanya konsumen harus lebih cermat, waspada dan teliti lagi untuk membeli sayur mayur yang akan dikonsumsi, bisa jadi itu adalak kamuflase dari pestisida yang berwujud sayuran. sayangilah HIDUP anda sekarang juga, karena hidup cuma sekali.
Sabtu, 27 Juli 2013 0 komentar

Musim Pahit Petani Stroberi

Stroberi merupakan tanaman yang mempunyai nilai ekonomis yang cukup tinggi. Buah yang berasal dari daerah tropis ini hanya bisa di tanam di indonesia pada dataran tinggi yang mempunyai sedikit kesamaan suhu daerah asalnya. Sebaran tanaman stroberi di Jawa Barat ada di  Lembang (Lembang dan Cibodas), Ciwidey (lebih tepatnya di Kecamatan Ciwidey dan Kecamatan  Rancabali), Garut yaitu di desa Barudua Kecamatan Cipeundeuy dan ada juga di daerah Cianjur yaitu sekitaran cipanas.

Pada tahun ini para petani stroberi mengalami banyak kerugian karena hasil produksi stroberi yang anjlok. Jika pada tahun-tahun sebelumnya para petani dapat memanen stroberi sampai 1 kw/musim sekarang hanya mampu sampai belasan kilo saja. Tak heran jika para petani stroberi mulai mengganti tanaman stroberi dengan tanaman sayuran seperti kubis, bawang daun, brokoli serta tanaman sayuran lain yang mempunyai nilai ekonomis yang tinggi.

Rendahnya produktivitas stroberi pada musim ini dikarenakan anomali cuaca yang tidak stabil. Tanaman stroberi mampu menghasilkan buah dengan kualitas yang baik jika memasuki musim kemarau, tetapi belakangan hujan malah lebih sering terjadi. Akibat dari anomali musim ini hama dan patogen yang biasa menyerang tanaman stroberi menjadi lebih parah.

Hama yang sering menyerang tanaman stroberi di beberapa tempat di Jawa barat adalah serangan dari hama penggerek akar, kutu daun dan aphis, sedangkan penyakit yang paling umum meyerang adalah busuk buah, busuk akar, bercak daun, dan kerdil yang disebabkan oleh nematoda. Hama penggerek akar, dan penyakit busuk buah dan busuk akar adalah organisme yang paling sering dijumpai pada musim ini. Akibat dari serangan hama dan infeksi patogen ini produktifitas tanaman stroberi turun sampai 80%. 

Selain hama dan  Penyakit yang menyebabkan produktifitas stroberi menjadi kurang maksimal, faktor dari tanaman juga mempengaruhi produksi stroberi ini. pada musim hujan ini tanaman stroberi lebih banyak memunjulkan tunas baru sehingga daunnya jauh lebih banyak dari pada produksi buah. hal ini juga memperparah infeksi patogen seperti jamur dan bakteri karena menyebabkan kelembapan di lahan menjadi lebih tinggi sehingga jamur dan bekteri lebih cepat berkembang. 

Untuk menangani masalah ini terutama yang disebabkan oleh hama dan penyakit para petani masih sering menggunakan pestisida sebagai jalan keluar terbaiknya. Rata-rata petani stroberi menggunakan lebih dari dua jenis pestisida dalam sekali penyemprotan untuk mengendalikan patogen yang menyerang. Dalam prakteknya mereka biasa mencampurnya dengan alasan agar lebih efektif dan efisien. Padahal jika ditinjau lagi bahwa petani stroberi menggunaan dua bahan aktif yang sama sekaligus, dan penetapan dosisnyapun lebih tinggi. Hal ini jelas tidak efektif mala terjadi pemborosan serta dapat merusak lingkungan akibat residu dari pestisida tersebut.
Jumat, 26 Juli 2013 1 komentar

Barudua Si Desa Stroberi

Stroberi ???? siapa sih yang gak tau.. Buahnya itu yang merah merekah, dihiasi dengan biji semu yang membuat buah ini makin mempesona. kalo rasanya gimana??.. rasanya tentu saja macem-macem. sebenarnya sih dua macem manis dan asem hanya saja tingkatan rasanya saja yang berbeda-beda. 

Di Garut ada sentralnya stroberi. tepatnya di Desa Barudua, Kecamatan Cipeudeuy, Kabupaten Garut. Desa ini benar-benar namanya DESA STROBERI. hampir seluruh masyarakatnya menanam stoberi. jarang yang tahu bahwa Garut punya desa unik ini. menurut pemerintah setempat, desa Barudua ini akan digadang-gadang jadi desa Stroberi karena pendapatan utama masyarakat desa ini berasal dari stroberi.

jalan menuju desa ini cukup mudah. desa ini ada di perbatasan antara Garut dan Tasik. kalau mau naik angkutan umum cari saja yang ke arah MALANGBONG, setelah malangbong baru ketemu CIPEUNDEUY. Nah dari situ tinggal tanya saja desa BARUDUA atau BAKOM. 

stroberi yang banyak di budidayakan di desa ini yaitu stroberi varietas Kellybright atau masyarakat biasa sebut kalibret byar mudah ngucapnya, trus ada juga varietas Kalifornia. perbedaan dari kedua jenis ini adalah kalau varietas kalibret buahnya lebih keras, rasanya lebih asam, karena buahnya lebih keras inilah maka bisa bertahan lama, apalagi jika akan di kirim ke pulau luar jawa. sedangkan varietas Kalifornia buahnya jauh lebih manis, produksinya lebih tinggi tetapi buahnya tidak tahan lama serta varietas Kalifornia ini lebih rentas terserang hama dan penyakit. 

Desa Barudua ini sekilas tampak sama dengan CIWIDEY. tetapi secara khusus terdapat perbedaan khusus seperti halnya tempat mandi/jamban yang masih di luar, rasa kekeluargaan yang masih sangat kental dan hawanya tampak berbeda dengan Ciwidey walaupun sama-sama di dataran tinggi. di desa ini juga ada Masjid sangat cocok buah rehat sejenak. Tetapi masih sangat di sayangkan pengunjung masjidnya sangat sedikit, mungkin di karenakan sibuk di ladang. sangat di sayangkan memang, Ketika Sang Maha Kuasa memberikan nikamat yang tidak semua desa mendapatkannya tetapi masyarakatnya seakan mulai sibuk dengan pekerjaan sehingga banyak yang lalai dan lupa siapa yang telah memberikan rizki itu.
Rabu, 08 Mei 2013 0 komentar

Sistem pemantauan ekosistem dan teknik pengamatan


Senin, 06 Mei 2013 0 komentar

Tanaman Indikator untuk Virus

Ada beberapa jenis tanaman yang sangat rentan terhadap virus tertentu dan menunjukkan gejala yang khas sehingga dapat dimanfaatkan sebagai metode untuk mendeteksi dan mengidentifikasi virus tertentu (Walkey 1991). 
contoh tanaman indikator : 
  1. Solanaceae yaitu tomat (Lycopersicon esculentum), kecubung (Datura stramonium), cabai rawit (Capsicum frutescens), cabai besar (C. annuum ), terong (Solanum melongena ), Nicotiana benthamiana, N. clevelandii, N. glutinosa, N. tabacum var. Burley, N. tabacum var. Xanthi, N. tabacum var. Havana, dan Petunia hybrida;
  2. Leguminosae yaitu kedelai (Glycine max), kacang panjang (Vigna unguiculata), kacang hijau (V. radiatus), dan kacang tanah (Arachis hypogaea);
  3. Cucurbitaceae yaitu mentimun (Cucumis sativus ), melon (C. melo), semangka (Citrulus radiatus), dan labu (Cucurbita moschata);
  4. Chenopodiaceae yaitu Chenopodium amaranticolor, C. quinoa;
  5. Cruciferae yaitu kubis (Brassica oleracea), sawi hijau (B. juncea), dan Caisin (B. campestris); 
  6. Amaranthaceae yaitu Gomphrena globosa.
Rabu, 01 Mei 2013 0 komentar

Komponen Virus Tumbuhan

Komponen dari virus tumbuhan ada 3 yaitu:
1. Asam nuleat terdiri dari:
  • DNA (terdiri dari : Gula 5 karbon (2-deoksiribosa), basa nitrogen yang terdiri golongan purin yaitu adenin (Adenin = A) dan guanin (guanini = G), serta golongan pirimidin, yaitu sitosin (cytosine = C) dan timin (thymine = T), dan gugus fosfat). Bentuk ssDNA & dsDNA
  • RNA (terdiri dari : 5 karbon, basa nitrogen yang terdiri dari golongan purin (yang sama dengan DNA) dan golongan pirimidin yang berbeda yaitu sitosin (C) dan Urasil (U) dan gugus fosfat). Bentuk ssRNA & dsRNA
2. Mantel Protein
  • Terdiri atas serangkaian gugus asam amino : serin, metionin, glutamin, treonin, fenilalanin, isoleusin
  • Fungsi : melindungi asam nukleat
  • Waktu terbentuknya: pada saat genom virus bereplikasi dan disandi ssRNA yang bersifat positive-sense
3. Amplop (ada yang punya dan ada yang tidak)
Amplop merupakan bagian terluar dari struktur tubuh virus. Amplop tersusun atas lipid, protein, dan karbohidrat. pada amplop terdapat tonjolan yang disebut Spikes, tonjolan tersebut terdiri dari protein dan karbohidrat. (Tospovirus & Rhabdovirus)
Jumat, 05 April 2013 0 komentar

TRANSMISSION VIRUS VIA PLANT MATERIAL

A. Mechanical Transmission
Mechanical inoculation involves the introduction of infective virus or viral RNA into a wound on the plant’s surface. When virus establishes itself successfully in the cell, infection occurs. This form of transmission occurs naturally with a few viruses such as Tobacco mosaic virus (TMV) and Potato virus X (PVX) that are very stable and reach high concentrations in the plant. TMV can readily contaminate hands clothing, and implements and can be spread by workers and, for instance, birds in tobacco and tomato crops. TMV may be spread mechanically by tobacco smokers because the virus is commonly present in processed tobacco leaf. For example, a survey showed that all 37 brands of
cigarette and 60 out of 64 smoking tobaccos contained infectious TMV.
Mechanical transmission is of great importance for many aspects of experimental plant virology, particularly for the assay of viruses, often by local lesion production; in the propagation of viruses for purification; in host range studies; in diagnosis; and in the study of the early events in the interaction between a virus and susceptible cells. Mechanical inoculation is usually done by grinding up infected leaf tissue in a buffer—usually a phosphate buffer that contains additives that control nucleases and polyphenols—incorporating an abrasive such as celite or carborundum, and then rubbing the extract gently on the leaves of the recipient plant. The gentle application wounds the leaf surface without causing cell death.

B. Seed Transmission
About one-seventh of the known plant viruses are transmitted through the seed of at least one of their infected host plants. Seed transmission provides a very effective means of introducing virus into a crop at an early stage, giving randomised foci of primary infection throughout the planting. Thus, when some other method of transmission can operate to spread the virus within the growing crop, seed transmission may be of very considerable economic importance. Viruses may persist in seed for long periods so commercial distribution of a seed-borne virus over long distances may occur. Seed transmission rates vary from less than 1 to 100 percent, depending on virus and host.
Two general types of seed transmission can be distinguished. With TMV in tomato, seed transmission is largely due to contamination of the seedling by mechanical means. The external virus can be readily inactivated by certain treatments eliminating all, or almost all, seed-borne infection. In the second and more common type of seed transmission, the virus is found within the tissues of the embryo. The developing embryo can become infected either prior to fertilisation by infection of the gametes (indirect embryo invasion or gametic transmission) or by direct invasion after fertilisation. Generally speaking, for infection of the embryo from the mother plant, the earlier the plant is infected, the higher the percentage of seed that will transmit the virus. Obviously, for indirect embryo invasion by pollen, the infection takes place at pollination. 
The direct route of seed infection from the mother plant poses problems in that symplastic connection is severed at meiosis. To infect the embryo, the virus has to reach either the floral meristems, which are beyond the limits of normal long-distance movement in the phloem, or the embryo itself. The route of direct embryo infection of peas by Pea seedborne mosaic virus has been examined in detail.

C. Pollen Transmission
Some viruses are transmitted from plant to plant via pollen. As with seed transmission, two mechanisms appear to operate in pollen transmission: gametic infection of the embryo and direct infection of the mother plant.

D. Vegetative Propagation
Vegetative propagation is an important horticultural practice, but it is also, unfortunately, a very effective method for perpetuating and spreading viruses. Economically important viruses spread systemically through most vegetative parts of the plant. A plant once systemically infected with a virus usually remains infected for its lifetime. Thus, any vegetative parts taken for propagation, such as tubers, bulbs, corms, runners, and cuttings, will normally be infected.

E. Grafting
Grafting is essentially a form of vegetative propagation in which part of one plant (the scion) grows on the roots (the stock) of another individual. Once organic union has been established, the stock and scion become effectively a single plant. Where either the rootstock or the individual from which the scion is taken is infected systemically with a virus, the grafted plant as a whole will become infected if both partners in the graft are susceptible. Grafting may succeed in transmitting a virus where other methods fail.
0 komentar

Teknologi System Of Rice Intensification (S.R.I)

SRI adalah teknik budidaya padi yang mampu meningkatkan produktifitas padi dengan cara mengubah pengelolaan tanaman, tanah, air dan unsur hara, terbukti telah berhasil meningkatkan produktifitas padi sebesar 50% , bahkan di beberapa tempat mencapai lebih dari 100%. Metode ini pertama kali ditemukan secara tidak disengaja di Madagaskar antara tahun 1983 -84 oleh Fr. Henri de Laulanie, SJ, seorang Pastor Jesuit asal Prancis yang lebih dari 30 tahun hidup bersama petani-petani di sana. Oleh penemunya, metododologi ini selanjutnya dalam bahasa Prancis dinamakan Ie Systme de Riziculture Intensive disingkat SRI. Dalam bahasa Inggris populer dengan nama System of Rice Intensification disingkat SRI.
Tahun 1990 dibentuk Association Tefy Saina (ATS), sebuah LSM Malagasy untuk memperkenalkan SRI. Empat tahun kemudian, Cornell International Institution for Food, Agriculture and Development (CIIFAD), mulai bekerja sama dengan Tefy Saina untuk memperkenalkan SRI di sekitar Ranomafana National Park di Madagaskar Timur, didukung oleh US Agency for International Development. SRI telah diuji di Cina, India, Indonesia, Filipina, Sri Langka, dan Bangladesh dengan hasil yang positif.
SRI menjadi terkenal di dunia melalui upaya dari Norman Uphoff (Director CIIFAD). Pada tahun 1987, Uphoff mengadakan presentase SRI di Indonesia yang merupakan kesempatan pertama SRI dilaksanakan di luar Madagaskar Hasil metode SRI sangat memuaskan. Di Madagaskar, pada beberapa tanah tak subur yang produksi normalnya 2 ton/ha, petani yang menggunakan SRI memperoleh hasil panen lebih dari 8 ton/ha, beberapa petani memperoleh 10 – 15 ton/ha, bahkan ada yang mencapai 20 ton/ha. Metode SRI minimal menghasilkan panen dua kali lipat dibandingkan metode yang biasa dipakai petani. Hanya saja diperlukan pikiran yang terbuka untuk menerima metode baru dan kemauan untuk bereksperimen.
Dalam SRI tanaman diperlakukan sebagai organisme hidup sebagaimana mestinya, bukan diperlakukan seperti mesin yang dapat dimanipulasi. Semua unsur potensi dalam tanaman padi dikembangkan dengan cara memberikan kondisi yang sesuai dengan pertumbuhannya.
Prinsip-prinsip budidaya padi organik metode SRI
1.      Tanaman bibit muda berusia kurang dari 12 hari setelah semai (hss) ketika bibit masih berdaun 2 helai
2.      Bibit ditanam satu pohon perlubang dengan jarak 30 x 30, 35 x 35 atau lebih jarang
3.      Pindah tanam harus sesegera mungkin (kurang dari 30 menit) dan harus hati-hati agar akar tidak putus dan ditanam dangkal
4.      Pemberian air maksimal 2 cm (macak-macak) dan periode tertentu dikeringkan sampai pecah (Irigasi berselang/terputus)
5.      Penyiangan sejak awal sekitar 10 hari dan diulang 2-3 kali dengan interval 10 hari
6.      Sedapat mungkin menggunakan pupuk organik (kompos atau pupuk hijau)
0 komentar

Reaksi PCR



Berikut adalah komponen yang diperlukan untuk reaksi PCR, yaitu:
a.       DNA cetakan / DNA target
Merupakan keseluruhan DNA sampel yang di dalamnya terkandung fragmen DNA target. DNA cetakan yang digunakan sebaiknya berkisar antara 105-106 molekul dan sudah dimurnikan. DNA yang digunakan sebagai cetakan dapat berupa rantai-tunggal maupun rantai-ganda. Efisiensi amplifikasi biasanya lebih tinggi jika menggunakan molekul DNA yang sudah dilinearkan dengan enzim retriksi tertentu daripada kalau menggunkan molekul DNA berbentuk sirkular.
b.      Primer
Primer adalah suatu oligonukleotida yang memiliki 10 sampai 40 pb (pb = pasangan basa) dan merupakan komplementer dari DNA target. Pemilihan primer yang tidak sesuai dapat menyebabkan tidak terjadinya reaksi polimerasi antara gen target dengan primer. Berikut adalah kriteria pemilihan primer, yaitu :
1. Panjang primer : 15-30 pb
2. Kandungan GC sekitar 50%
3. Temperatur penempelan kedua primer tidak jauh berbeda
4. Urutan nukleotida yang sama harus dihindari
5. Tidak boleh terjadi self dimmer, pair dimmer, atau hairpin
c.       DNA Polimerase
Merupakan enzim yang stabil dalam pemanasan dan umumnya digunakan enzim Taq DNA polimerase (Taq = Thermus aquaticus). Enzim ini tetap stabil mengamplifikasi DNA walaupun amplifikasi berjalan pada suhu mendekati titik didih air.
d.      Buffer / Dapar
Buffer atau dapar yang digunakan umumnya mengandung MgCl2 yang mempengaruhi stabilitas dan kerja enzim polimerase. Buffer yang dianjurkan untuk melakukan PCR adalah 10-50 mM Tris-HCL, pH 8,3-8,8 (pada suhu 20oC). Untuk membatu proses penempelan primer dapat ditambahkan KCL sampai konsentrasi 50 mM dan tween 20 sebanyak 0,05-0,1% untuk mempertahankan kestabilan enzim Taq DNA polymerase.
e.       dNTP
dNTP atau deoxynukleotide Triphosphates merupakan suatu nukleotida bebas yang berperan dalam perpanjangan primer melalui pembentukkan pasangan basa dengan nukleotida dari DNA target. Larutan stok dNTP yang akan digunakan mempunyai pH 7,0 dan konsentrasi dNTP yang diperlukan dalam PCR berkisar antara 20-200 µM.
0 komentar

Tahapan Proses PCR



1.      Denaturasi
Pada tahap ini molekul DNA dipanaskan sampai suhu 94oC yang menyebabkan terjadinya pemisahan untai ganda DNA menjadi untai DNA tunggal. Untai DNA tunggal inilah yang menjadi cetakan bagi untai DNA baru yang akan dibuat.
2.      Penempelan (Annealing)
Enzim Taq polimerase dapat memulai pembentukan suatu untai DNA baru jika ada seuntai DNA berukuran pendek (DNA yang mempunyai panjang sekitar 10 sampai 30 pasang basa) yang menempel pada untai DNA target yang telah terpisah. DNA yang pendek ini disebut primer. Agar suatu primer dapat menempel dengan tepat pada target, diperlukan suhu yang rendah sekitar 550C selama 30-60 detik. 
3.      Pemanjangan (Ektension)
Setelah primer menempel pada untai DNA target, enzim DNA polymerase akan memanjangkan sekaligus membentuk DNA yang baru dari gabungan antara primer, DNA cetakan dan nukleotida.
Ketika tiga tahap di atas dilakukan pengulangan, maka untai DNA yang baru dibentuk akan kembali mengalami proses denaturasi, penempelan dan pemanjangan untai DNA menjadi untai DNA yang baru. Pengulangan proses PCR akan menghasilkan amplifikasi DNA cetakan baru secara eksponensial.
 
;