Tampilkan postingan dengan label Sambel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sambel. Tampilkan semua postingan
Jumat, 02 Mei 2014 0 komentar

Masa Kecilku

kalian tentu pernah muda yang pasti pernah kecil. masa kanak-kanak adalah masa dimana dunia ini sangat mudah, penuh citarsa, penuh tawa, penuh warna dan penuh dengan tantangan-tantangan baru yang menurut kita patut dicoba. kali ini saya akan mengulas sedikit berkas-berkas ingatan diotak untuk dituangkan dalam coretan ini. ingatan tentang masa kecilku dulu dikampung. 
saatnya bernostalgia......
pernahkan kalian dengar JRUPO (bahasa Jawa). jrupo itu adalah kegiatan memungut ikan, udang dan apapun itu di kolam punya orang, tentunya setelah kolam tersebut dipanen sama yang punya ya. jrupo adalah salah satu kegiatan paling menantang dan paling asik semasa kecilku. apasih menantangnya dan asiknya. kita ulas satu satu ya...
pagi buta setelah solat subuh dengan salam kilat (tengok kanan kiri langsung lari) saya harus berubah mengenakan baju tempur. baju tempur yang dipakai yaitu kaos olahraga yang sudah kendor kerahnya atau udah dekil nyaris seperti lap dengan ujung kaos dikasih tali apapun itu untuk diikat agar kuat. sepedah mini (sebutah sepadaku yang kecil) padahal lebih tinggi sepedah daripada badan saya, harus dikayuh menuju area pertambakan udang dan ikan bandeng sejauh 5-6 km. jalanan setengah jadi alias hanya tersedia batu-batu yang tersusun tidak beraturan adalah jalan yang dilewati. jalan yang berbalut tanah liat jika hujan jadi jalan kampret karena susahnya minta ampun untuk melawat.
kami selalu berangkat bersama alias NGABRING (istilah sunda) sampai menuju lokasi. terik-teriak dijalan, ketawa-ketawa, kebut-kebutan dengan sepeda, selalu jadi penghibur dalam perjalanan. sekitar 1-2 jam kami sampai titik awal yaitu titik pemantauan. titik pemantauan ini ada di Jembat Gantung diujung tambak yang berbatasan dengan laut dengan pantai bakau. penyangga jembatan yang menjulang tinggi inilah yang namanya titik pemantauan. salah satu dari kami tanpa komado langsung merangsek naik keujung penyangga. layaknya monyet yang terlatih menjat pohon kelapa. hanya berpegang pada kabel kecil yang menjuntai, sang komandan dengan mata terpicing mengamati setiap sudut untuk menemukan dimana letak lahan yang sedang panen. setelah menemukan titik dimana lahan yang panen sang kapten langsung beri intruksi untuk penyerbuan kelahan tambak yang dituju. jumlah kali tidak banyak hanya sekitas 15-20 anak. kembali sepeda kami kayuh denga semangat 45.
sesampainya di tambak yang panen kami dengan sigap langsung berjajar di tanggul-tanggul (pembatas tamban/ pematang). mentari pagi jadi pemanas badan alami kami. cengar cengir dipinggiran tanggul sambil menunggu intruksi untuk terjun dalam kolam yang isi ikan dan udang sisa yang tak terambil oleh pemiliknya. 
dari pojok tambak ada tiga orang yang sedang bersiap untuk mengeringkan lahan yang airnya makin surut. papan dengan panjang sekitar 3 meteran mulai didorong. udang-udang yang masih hidup berloncatan menghiasi kolam. mata kami berbinar-binar berharap banyak udang yang tertinggal. 
orang yang punya lahan langsung memungut udang udang yang bertebaran di CAREN dan dikumpulkan dalam drum yang cukup besar. kami perlahan mulai terjun dengan posisi kami di belakang pemilik lahan sejauh 1-2 meter. tangan-tangan termapil dalam meraba ada tidaknya udang dalam kubangan lumpur hitam pekat menjadi tantangan dalam hal ini. insting dan indra peraba kami harus lebih peka dari biasanya. tenaga harus lebih kuat dari biasanya. karena berjalan di lumpur itu lumayan susah apalagi jika lumpurnya dalam. ngos-ngosan bray. udang itu punya ujung kepala yang runcing serta diekor yang lumayan runcing. biasanya dengan mengenai salah satu yang runcing itu kami bisa memastikan ada udang uang didapat atau kumisnya udang yang tampak pada permukaan. udang dan ikan bandeng maupun mujair kamu masukan kedalam kaos. kebayang yah ikan dan udang hidup meronta-rota dalam kaos. apalagi pas udang itu kepalanya nusuk perut. cenut-cenut srasanya. tapi tenang saja air asin akan cepat meredam rasa sakit.
sekitar 2-3 jam kami bermain dalam lahan tambak. satu persatu kamui mulai beranjak mencari sungai hanya untuk membersihkan lumpur-lumpur yang melekat di badan. hasil yang didapat langsung kami jual ke para pengepul. kalau lagi HOKI kami bisa dapat puluhan ribu tapi kalau lagi APES hanya dapat makanan MOLEN 3 biji. biasanya ikan yang didapat kami bawa pulang selain ikan bandeng. dipinggiran sungai kami mulai memebersihkan badan, sambil mencuci pakaian kami yang penuh lumpur. sambil maenan air tepuk-tepukan air, sampai penganiayaan manusia yang berbadan kecil seperti saya yang kepalanya di masukan dalam air. 
badan mulai hitam keling, rambut menjadi kemerah-merahan semua itu tidak kami pedulikan. biasanya setelah jrupo kami mencari daun cincau yang banyak tumbuh dipinggir-pinggi jalan menuju rumah. kami biasa buat es cincau sendiri. hanya dengan meremas-remas daun cincau dalam air hangat kemudian dsaring dan diamkan sampai dingin, sambil menungu dingin buat pemanisnya yaitu dari gula aren trus tinggal beli esnya dah. sambil nyeruput es cincau, menunggu sore untuk maen bola. biasanya kami kelaperan setelah jrupo tapi kami biasa pulang dan ngumpul tempat teman terdekat dulu untuk makan. jadi pulang kerumah sudah kenyang. hahahaha
jika escincau lebih cepat habis dari biasanya kami langsung pulang menuju rumah masing-masing dan menyerahkan hasil jarahan kami di tambak tadi kepada emak. kemudian mandi lagi ala BEBEK yang penting basah. walaupun sudah disabun beberapa kali badan tetap saja lumpur. kuku-kuku kami sedikit hitam. mengerikan yah. tak perlu perawatan khususlah toh kami ga peduli juga.
dan sore meyapa. waktunya maen bola. hahaha
Sabtu, 24 Agustus 2013 0 komentar

Kaulah Aku

Seberapa kuat kah hati ini untuk tegar selayaknya karang yang diterpa badai. Sebarapa mampukah kaki ini melangkah dalam sebuah pelarian yang kian tak berarah. Seberapa indahkah kala bunga mulai menemui masa penuaannya. Seakan semuanya mulai rapuh, letih dan kian melayu. Tak ada lagi hara yang mampu terserap sempurna. Perlahan tanpa dirasa semua menggenang membuat rapuh dan tak berdaya.

Kala senyawa sederhana ada dan menghapiri tanpa henti seakan menjadi candu. Menyerapnya, meleburnya dan menyebarkan semua efeknya dalam hati yang rapuh.Tunas-tunas rasa makin menampakan geliatnya. Kini saat-saat memulai fotosintesa dengan berbagai rasa terbaik. Berkolaborasi denganmu seakan selalu memproduksi energi terbaik setiap prosesnya.

Kaulah nutrisi terbaikku.
Kaulah energi positifku.
Kaulah Aku.
Senin, 29 Juli 2013 0 komentar

STRATEGI MEMBANGUN PEMERINTAH YANG JUJUR DAN ADIL

 
Kursi pemerintahan adalah kursi panas bagi siapa saja yang mendudukinya. Kursi yang memegang peranan penting dalam segala aspek maka tidak jarang banyak yang mengincar kursi ini untuk segala kepentingan dan ambisi dari setiap kalangan yang akan berkiprah nantinya.
Bukan hal yang asing lagi jika sebuak kursi untuk jabtan strategis diperlakukan layaknya orang berbisnis. Untuk dapat menduduki kursi tersebut setiap individu maupun kelompok akan mengeluarkan dan yang tidak sedikit seperti halnya data data yang di temukan oleh ICW.
Berdasar perhitungan ICW terhadap laporan dana kampanye delapan partai besar, terdapat selisih jumlah pengeluaran dana kampanye yang cukup mencengangkan. Partai Golkar misalnya, laporan belanja iklan mereka secara resmi kepada KAP hanya Rp 142 miliar. Akan tetapi, dari perhitungan ICW terhadap iklan Golkar di televisi berdasar data AGB Nielsen, setidaknya pengeluaran belanja iklan televisi Golkar mencapai Rp 277 miliar. Itu berarti, terdapat selisih Rp 135 miliar yang sangat mungkin tidak dilaporkan Golkar sebagai pengeluaran.
Laporan pengeluaran dana kampanye partai besar lain, seperti PDI Perjuangan dan PPP, juga termasuk yang mencurigakan. PDI Perjuangan sebagai contoh hanya melaporkan Rp 7 miliar untuk belanja iklan. Akan tetapi, dari data AGB Nielsen, total pengeluaran belanja iklan televisi PDI Perjuangan mencapai Rp 102 miliar. Dengan demikian, selisih laporan resmi dengan estimasi perhitungan ICW mencapai Rp 95 miliar.
Satu partai lagi yang mencolok adalah PPP karena selisihnya Rp 36,4 miliar. Laporan pengeluaran resmi mereka kepada KAP hanya Rp 3,6 miliar, namun total pengeluaran berdasar estimasi ICW mencapai Rp 40 miliar. Partai selanjutnya yang juga terindikasi bermasalah dalam laporan pengeluaran dana kampanye adalah PKS, Partai Hanura, dan PAN meskipun dengan selisih yang lebih kecil.
Wajar saja jika banyak terjadi praktek korupsi dikalangan anggota dewan, untuk mendapatkan kursinya saja sudah susah butuh dana dan waktu yang tidak sedikit. Bualan dan omong kosong serta janji-janji palsu turut serta menyemarakan kegiatan perebutan kursi ini.  Layaknya melelang sebuah lukisan tua yang mempunyai nilai seni yang tinggi. Yang berani menawar dengan harga tinggi dialah yang akan mendapatkannya.
Praktik-praktik korupsi ini menimbulkan dampak sosial dan ekonomi yang sangat luas. Proses pembangunan tidak berjalan dengan semestinya karena uang yang seharusnya untuk kesejahteraan masyarakat malah masuk ke kantong-kantong pribadi. Apalagi di saat negara tengah menghadapi persoalan berat, seperti pengangguran, kemiskinan, dan berbagai bencana alam. Praktik korupsi dipastikan akan semakin menambah beban negara dan rakyat.
Untuk menghilangkan praktek korupsi, tentunya dibutuhkan seorang pemimpin yang layak dan aturan hukum yang sangat jelas, tegas, keras, berat, dan mengikat, tanpa menoleransi usaha penyuapan terhadap hukum yang berlaku. Seyogyanya pula perangkat (aturan) hukum tersebut tidak hanya menjadi wacana saja, tetapi juga diamalkan (dilaksanakan) sebagai realisasi.
Dari hasil polling online yang dilakuakan oleh QB Leadership Center di LeadershipQB.com didapatkan data bahwa karakter seorang pemimpin yang ideal adalah seagai berikut : (a) Jujur dan bersih dari korupsi, serta membangun sistem yang mencegah korupsi. (b) Punya integritas, tegas, dan berani mengambil sikap. (c) Visoner: Punya visi jangka panjang dan mengambil langkah untuk merealisasikannya.
Dalam hal ini ada baiknya jika pemerintah mengambil contoh sistem hukum negara lain dalam menghukum para koruptor yang kelak dapat menghancurkan bangsa ini. Ada baiknya pula jika pemerintah menindaklanjuti praktek korupsi yang merajalela di dalam negara dengan mempelajari penanggulangan kasus-kasus korupsi yang merebak di negara-negara lain yang juga tergolong negara korup, atau negara bebas korupsi. Dengan sendirinya, pemerintah akan lancar dalam merumuskan strategi pembasmian praktek korupsi di Indonesia setelah mendapat masukan dari cara-cara negara lain dalam mengatasi kasus korupsi. Contohnya adalah seperti yang telah dijabarkan oleh Bapak Kwik Kian Gie dalam buku “PEMBERANTASAN KORUPSI: Untuk Meraih Kemandirian, Kemakmuran, Kesejahteraan dan Keadilan” edisi II, yakni dengan menerapkan konsep Carrot and Stick di Indonesia yang telah dilakukan beberapa negara, seperti Singapura atau Republik Rakyat Cina, dan dapat dinilai telah berhasil.
Dalam penjabarannya yang lumayan panjang-lebar namun jelas tersebut, Bapak Kwik Kian Gie menawarkan solusi pemberantasan korupsi di Indonesia dengan menerapkan konsep Carrot and Stick, yang mana arti Carrot dan Stick tersebut adalah sebagai berikut.
Konsep Carrot adalah memberikan pendapatan bersih kepada pegawai negeri yang mencukupi menurut standar sesuai pendidikan, pengetahuan, tanggung jawab, kepemimpinan, pangkat, dan martabatnya (jika perlu dengan tingkat yang tinggi), sehingga orang yang mencari ‘keuntungan lain’ dengan korupsi cenderung enggan, karena telah terpenuhi dengan pendapatan tingginya tersebut.
Kemudian konsep Stick (secara harfiah berarti pentung atau tongkat) diterapkan jika Carrot telah terpenuhi semua, namun yang mendapatkan masih berani melakukan korupsi. Hukuman ini bersifat amat sangat berat, karena tingkat korupsi sudah sangat tinggi dan merajalela dimana-mana.
Salah satu hukuman yang setimpal bagi para koruptor yang telah menyengsarakan rakyat banyak adalah hukuman yang bersifat amat keras, sangat berat, bahkan menurut aturan agama, seperti: hukuman penjara seumur hidup atau hukuman mati. Namun, sebagai bangsa yang berbudi luhur, ada baiknya jika para koruptor yang tingkat korupsinya masih bisa dikatakan sangat rendah diberikan sekali kesempatan untuk memohon pengampunan atas tindakannya, tetapi dengan catatan: segala harta, benda, atau uang yang telah dikorup dikembalikan kepada yang berwewenang seluruhnya alias seratus persen.
Kemudian, jika setelah permohonan ampun diterima dengan pengembalian harta, benda, atau uang yang telah dikorup kepada pihak yang sebenarnya, koruptor tersebut masih berani melakukan korupsi, maka tidak ada kesempatan kedua dan koruptor tersebut harus langsung dijatuhi sanksi atau hukuman seberat-beratnya setimpal dengan praktek korupsi yang telah dilakukannya. Bahkan, agar lebih tegas dan keras, sebaiknya kemungkinan pelaku korupsi tersebut melakukan ‘korupsi ketiga’ ditiadakan dan tentunya hal itu direalisasikan dengan hukuman mati tanpa toleransi.
Dengan hukuman seperti itu, kita harapkan para koruptor menjadi enggan untuk berbuat korup lagi dikarenakan melihat ‘teman-temannya’ mendapat ‘hadiah’ dan praktek korupsi dapat segera berkurang secara berangsur-angsur.
Sabtu, 04 Mei 2013 0 komentar

Tuhan Masih Sayang

Bukti Tuhan masih sayang.
Kita dibangkitkan dalam kelam.
Tersadar  dilamunan.
Segera terjaga  dikeheningan.

Bukti Tuhan masih sayang.
Sentuh kasih yang mendalam.
Menepuk hati yang menghitam.
sebeb lalai berkepanjangan.

Bukti Tuhan masih sayang.
Kita tlah diingatkan.
Hati ini tak layak tertawan.
Dengannya yang menawan.

Bukti Tuhan masih sayang.
Kita masih diajarkan.
Dimana ketulusan pemberian.
Pada siapa yang didahulukan.
Untuk apa dilakukan.

Bukti Tuhan masih sayang.
Kita masih diberi kesempatan.
Untuk santun dalam tindakan.
Melawan segala bentuk rayuan.
Demi cinta-NYA yang mendalam.

Jumat, 03 Mei 2013 0 komentar

Terjaga

Terlalu rumit untuk mengerti diri.
Terlalu pelik untuk diterka.
Tak terkecuali dirimu.
Semua semu.

Luput menutup hati.
Lena dalam terjaga.
Semua tlah terjadi.
Saatnya mengeti.

Bibir yang terkunci.
Tak satu patah katapun bergeming.
Namun hati terus berbisik.
Menggoda nada-nada sumbang di dada.

Tak perlu terlalu lama untuk larut.
Mata kaki ini lebih tinggi dari gunung.
Bahkan bulan sekalipun.
Pilih satu kata.
Tunjuk satu jiwa.
Aku ada.

0 komentar

Bahasaku

Hari ini saya tidak ingin berkata apa-apa.
Cukup kamu saja yang tau.
Hari saya tidak akan berfikir yang tidak-tidak.
Cukup kau yang dapat mengerti.
Hari ini saya tidak akan mencari tahu.
karena hatimu sudah disini.

Lawan mainku dalam hayal.
Lawan candaku dalam diam.
Lawan riangku dalam hening.
Lawan cahayaku dalam kelam.
 Kini kau tlah mengalahkan semuanya.

Tak pandai aku mengumpat cemburu.
Tak pandai aku membiaskan rindu.
Kini semuanya tlah tampak tanpa disengaja.
Menjabarkan segala rasa tanpa kata.
Kau mengerti.
Aku mengerti.
Hati kita apa kabarnya...??
Kamis, 02 Mei 2013 0 komentar

Sebelum Cahaya

kala hati bertabur mimpi
kemana kau pergi
kala ku tapaki perjalanan sunyi
kemana kau menepi

ingatkah engkau
sapaan embun pagi yang bersahaja 
jadi teman jiwamu sebelum cahaya
ingatkah engkau 
hembusan angin  mesra
yang membelai sayumu
masih kah kau ragu

kekuatan hati yang berpegang janji
aku akan tetap disini
ku takkan pergi meninggalmu sendiri
kan ku temani hatimu sampai nanti
Selasa, 30 April 2013 0 komentar

Tau

Ketidaktauan membuat buntu pemikiran.
Ketidaktauan membuat rancuh perkataan.
ketidaktauan membuat kikuk kelakuan.
ketidaktauan membuat runtuh kewibawaan.

Cari tau.
Banyak tau.
Memberi tau.
Agar banyak tau.
Jadi semakin tau.

Tidak sok tau.
Karena kurang tau.
Tidak mau cari tau.
Jadi salah laku.
Tidak patut ditiru.
Senin, 29 April 2013 0 komentar

Cita Berkawan

Wahai kawan.
Aku kini tertawan.
Dalam bahagia tanpa takaran.
Berselimut senyum menawan.

Wahai kawan.
Cita kita dalam lamunan.
Digoreskan tinta kesabaran.
Kini mulai tergambar kenyataan.

Wahai kawan.
Kita satu kesatuan.
Ikatan ukhwah keislaman.
Tak terlepas dengan zaman.

Wahai kawan.
Satu atap peraduan.
Satu cinta kebersamaan.
Satu pijak langkah perubahan.

Wahai kawan.
Bersama kita kejar angan yang berhamburan.
Bersama kita melangkah ketujuan.
Bersama kita semai keceriaan.
Bersama kita raih cita.
Sabtu, 27 April 2013 0 komentar

Masku "T"

Mas ingatkah kah dirimu.
Dulu kau ajarkan aku mengendarai sepeda.
Sepeda jengki itu namanya.
Jarimu tak pernah kau lepas padanya.
Sampai aku dapat menyeimbangkannya.

Mas ingatkah dirimu.
Dulu kau berikan semua mainan.
Wayang, klereng, karet gelang, ketapel bahkan.
Agar tangisku hilang.
Diganti senyum menawan.

Mas ingatkah dirimu.
Dulu kau ajari aku ini itu.
Tak pernah kau lelah.
Dari tambak sampai sawah.
Bahkan motor dan sepeda.

Mas ingatkah dirimu.
Aku selalu ikut denganmu.
Kemanapun itu.
Bahkan tidurpun tak pernah jauh.

Mas ingatkah dirimu.
Kau selalu mengantarku sekolah.
Dari SD sampai kuliah.
Tak jua berkeluh karenanya.
Bahkan kau beri aku senyum sebagai hadiahnya.

Mas taukah dirimu.
Kala Hatimu pilu menyembilu.
karena Khianatnya kasihmu.
Lara kalbuku melihatmu.

Mas taukah dirimu.
Bahagianya hatiku kala kau dipelaminan.
Senyummu terpancar menawan.
Kekasih idaman tlah kau dapatkan.

Mas taukah dirimu.
Kaulah obat kala aku takut pada ibu.
Kau jadi tumpuan seperti ayah.
Kaulah yang paling mengerti.
Kaulah kakak terbaik.
Aku ingin berterimakasih.


Kamis, 25 April 2013 0 komentar

Hilang

Tak aku tau ini sakit dan perih.
Tersayat-sayat.
Tercabik-cabik.
Kala hati kian merana.

Tanpa sepenggal kata.
Tanpa seutas surat.
Tak ada yang tau.
Kini kau hilang.

Bayangmu masih terukir jelas.
Pesonamu masih terpancar terang.
Kasihmu masih jadi selimutku.
Titahmu jadi padu langkah jalanku.

Karyamu takkan hilang ditelan zaman.
Kau tetap bersemayam dalam qolbu ini.
Lenteramu takkan redup.
Kini mulai menjelma menjadi mentari.

Biarlah bumi menelanmu.
Biarlah mikroba itu melumatmu.
Kau masih ada.
Jadi guru.
Jadi sahabat.

Senin, 22 April 2013 0 komentar

Jalanku

Tak tumbuh dengan yang kau mau.
Tak turut dengan yang kau pinta.
Terus membangkang.
Terus mengaung.
Hingga karam kedzaliman.

Biarkan saja mereka mengusik.
Biarkan saja mencaci.
gerbong ini akan terus berjalan.
Menuju cahaya kemulyaan.

Tekadku sudah bulat.
Semangatku tlah membuncah.
Intelejensiaku tlah ku asah.
Ragaku tumbuh sempurna.

Ini jalanku.
Ini giliranku.
Mengisi pos yang hilang.
Merajut kembali panji keislaman.
Hingga nafas ini hilang.
Minggu, 21 April 2013 0 komentar

Langkah

Mentari menyingsing.
Gelap terpelanting.
Detik waktu berdenting.
Ruhku sergap berdesing.

Utas tali ini meregang kencang.
Akan putus hilang kepalang.
Tangis berbuah senyuman.
Takut berakhir kenyamanan.
Kegelisahan kan sirna oleh kedamaian.

Tak ku paku waktu yang terbatas.
Tak ku jerat langkah yang tegas.
Melaju bagai butir peluru.
Mendobrak ragu yang membelenggu.

Ini waktuku.
Ini jiwaku.
Ini hidupku.
Ridho Tuhan yang dituju.
0 komentar

La Tahzan

La Tahzan
Dunia ini menawan.
Kita semua kawan.
Tak harus dilawan.

La Tahzan
Hari ini kenyataan.
Kemaren bukan sandaran.
Esok hanyalah angan.

La Tahzan.
'Kemaren' hilangkan tangisan.
 Sebab akan memupus gerakan.
'Esok" hilangkan penerkaan.
Sebab mengabadikan kekhawatiran. 

La Tahzan.
Hilangkan kekufuran.
Raih kesyukuran.
Khusyu' pendayagunaan.

La Tahzan.
Cabut pohon dan akar kesengsaraan.
Semai kesyukuran dalam teladan.
Petik cinta Tuhan.
Jumat, 12 April 2013 0 komentar

Doa dalam Lara

Mulai tercekik dan tercabik.
Hanya bola mata yang mampu melirik.
Terengah-engah karena nafas kian sulit.
Sakit untuk bangkit.

Terhenti lagi.
Meradang lagi.
Menyempit dan mengusik.
Lara kian pelik.

Tangan menggenggam mengepal.
Meronta geram.
Mata terpejam kelam.
Masih dalam ingatan.
Aku masih bertahan.

Semakin tak realistis.
Hanya mampu meringis.
Tertambat dzikir di lidah manis.

Dalam ringkukku.
Hatiku  mulai merayu.
Bolehkah aku ketuk pagi-Mu.
Untuk menyulam dosa lamaku.
Aku masih malu menghadap-Mu.
Beri aku waktu.
Untuk mencuci sandangku.

0 komentar

Aras 24

Melerai sebuah asa kecil dari hiruk pikuk sebuah rutinitas. 
Mencermati belenggu perilaku yang tak kunjung pantas. 
Menyibak segala asumsi hati yang memanas. 
Tak ada yang tau. 
Dalam 24 jam tak menentu. 

Sedetikpun tak ada angin.  
Dinding ini kian dingin. 
Ketukan nada rintik hujan yang mengalir. 
Detik waktu kini mulai kikir. 

Terselip seberkas cahaya di sebrang jendela. 
Bayang tampak dalam cerminan menyapa. 
Lihainya menyelinap disela-sela kasa. 
Saraya membisisk jiwa.
Aku masih belia.

Ruang kecil menganga tanpa cela. 
Tersulut amarah rindu lara.
Bait kata kala tergores percuma. 
Dalam untaian nada yang berangsur sirna.

Kemana lentera itu.
Cahaya sayup mulai meragu.
Teriak aku dalam bisu.

Masih diambang batas dua empat.
Rasa hati ingin mengumpat.
Meringkuk dalam hikmat.
Meski lentik mata tak kunjung merapat.

Minggu, 07 April 2013 0 komentar

TANYA

kenapa?
mengapa?
kata terus mengusik. rasa terus tercabik.
tak ada yang tau.
tak ada yang mau tau.
yang tau tak memberi tau.
 yang mencari tau jadi bisu.
apalagi yang tak tau.

kenapa?
mengapa?
masih sepi.
masih sunyi.
gelap menyelimuti.
terus menutup mata sampai mati.

kenapa?
mengapa?
tak terdengar lagi.
sampai 3 dekade nanti.
karena kata itu telah pergi.
mentari sudah datang lagi.
Selasa, 26 Februari 2013 1 komentar

Utas rasa

Dalam vektor kau bawa pesan sukma.
Hinggap di seberang  mata.
Stilet kau tusukan tepat di dada.
Menembus hati menebar rasa.

Partikel yang tak tampak.
Menyeruak dan mengoyak.
Kini jiwa mulai terbajak.
Dalam sandi-sandi yang sukar dilacak.

Mungkin hanya dua utas.
Ataupun hanya satu utas.
Yang kini mulai meretas.
Layaknya padi yang mulai ber 'nas.

Baik litik maupun lisogenik.
Kau mengklon diri dalam sedetik.
Sulit untuk menampik.
Infeksi rasa yang sistemik.

12.
 
;